Kamis, Februari 12, 2009

memahami "perang" dalam benak anak


Suatu siang, saat itu aku sedang menyaksikan acara berita di pesawat televisi. Saat itu sedang ramai-ramainya pemberitaan agresi militer Israel ke Palestina. Sudah lebih dari 600 orang mati akibat serangan biadab itu. Hampir semua stasiun televisi gencar menyiarkan berita itu, segencar Israel terus menggempur Palestina.

Sambil tiduran di depan televisi, tiba tiba anakku yang berusia 4 tahun menyelutuk.
"Ayah, Israel itu nakal ya", ujar Faiq tanpa kuduga.
“Itu banyak yang mati ditembak, anak-anak juga mati” sambungnya.

Memang, gambar yang keluar adalah anak-anak yang sudah menjadi mayat digotong, puing-puing bangunan yang berserakan, porak poranda.

Aku diam tak segera menyahut apa yang dilontarkan anak sulungku itu. Dalam hati, dari mana anak ini bisa berkomentar tentang konflik puluhan tahun yang hingga kini tak ada penyelesainnya.

“Ya….” jawabku menunggu komenter apa yang bakal meluncur.
“Israel itu nakal, jahat…” sambungnya.

Aku hanya berpikir, mungkin pemberitaan yang sedang ramai itu, direkam dalam otaknya. Atau istriku memberi pengertian tentang apa yang sedang terjadi di jalur Gaza itu.

Dalam hatiku, bagaimana dalam seusia itu, bisa memahami makna nakal atau jahat. Ataukah ia hanya memaknai nakal dan jahat seperti makna saat teman-temannya memukul dirinya, merobek kertas miliknya, atau merebut makanan ringan miliknya…..

“Kenapa sih yah, anak-anak itu mati ditembak?” tanya Faiq.
“Itu namanya perang” jawabku singkat.

Lalu dengan berusaha memahami pola pikir seusianya, aku mencoba memberi pengertian tentang apa itu perang, Israel dan Palestina dan Gaza. Walaupun aku yakin ia tidak akan mengerti seperti yang kuharapkan.

Sejenak aku sadar, memberi pengertian kepada anak-anak tidak bisa disamakan dengan memberi pengertian kepada orang dewasa. Paling tidak kita harus memehami pola piker, cara berpikir mereka.

Hmmm… mungkin inilah tugas berat yang kadang tidak disadari oleh kita para orang tua. Memahami pola pikir dan cara berpikir mereka. Dan jika saja hal ini tidak disadari saat kita mendidik anak, mungkin anak-anak kita nanti akan lebih jahat dari pada kita, lebih bengal dari pada kita, lebih tersesat dari pada kita.

Mungkin ini sekelumit renungan yang perlu disadari sedini mungkin.

Renungan ringan dari cirebon.

latah tapi jangan dibalik

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah. Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya,
semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang. Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.
Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo.Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).

Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap).

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.. Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris(Parangtritis) , atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong? Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.
Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.
(dari berbagai sumber) oleh gas cirebon

Jumat, Februari 06, 2009

Panen duren tlah tiba...







...
alhamdulillah wasyukurillah
bersyukur pada Mu ya Allah
indah dalam kebersamaan
hilanglah sebuah perbedaan
...

potongan syair lagu OPICK di atas rasanya pas sekali untuk menggambarkan persaudaraan kami sesama anggota GAS'92 SMAGER saat ini.setelah sekian lama lebih dari 2 windu kami berpencar bercerai berai tiada kabar beritanya. kini dengan semakin berkembangnya teknologi telekomunikasi dan informasi seakan telah menjadi penyambung dan perekat kembali rasa persaudaraan seakan kita berkumpul kembali seperti ketika kita masih lucu dan imut berbaju putih abu-abu (...tapi sekarang kayaknya tambah luuuucuu dan imuuuut deh...). setiap kali ada anggota GAS'92 yang mudik dapat dengan mudah terdeteksi, demikian juga ketika liburan sekolah beberapa waktu yang lalu beberapa anggota GAS'92 ada yang mudik. tentunya saja kesempatan ini tidak disia-siakan untuk bertemu dan silaturrahim.
liburan bertepatan dengan musim duren dan kebetulan ada undangan dari anggota GAS'92 yang punya kebun duren di lereng gunung wilis. jadilah hari ahad 25 januari 2009 kami berkumpul di rumah ET. hhhmmmm...begitu kami masuk rumah bau khas duren langsung menusuk ke hidung dari setumpuk duren yang sudah disiapkan.
setelah waktunya tiba untuk menikmati duren tanpa basa basi langsung saja diserbu...
hhhmmmm...nimatnya makan duren sambil berkumpul dengan teman lama
terimakasih pak ET sekeluarga atas undangan makan durenya, jazakumullah khoiron...

mbahyo

Rabu, Januari 14, 2009

SEMUT-SEMUT MERAH

Setiap kali pulang dari sekolah, Adri selalu bermain dengan teman-temannya di bawah pohon beringin yang rindang. Kadang mereka bermain kelereng dan kadang pula bermain petak umpet. Tak jarang pula mereka belajar bersama di tempat itu. Hawa yang nyaman dan angin yang semilir, membuat mereka betah berkumpul di tempat itu.
"Hei, teman-teman! Lihatlah ada yang unik di pohon beringin ini!" Teriak Adri menarik perhatian teman-temannya. "Ada apa?" tanya Ferdi penasaran. "Apanya yang unik?" tambah Deni dari belakang. "Lihatlah ada banyak semut merah yang berbaris di batang pohon. Awas! jangan sampai kita mengganggu mereka! Nanti mereka bisa menggigit. Kata ibu, gigitan semut merah sangat sakit! Lihatlah! Semut-semut itu selalu berbaris dengan rapi, berderet-deret dan merangkak dari akar pohon menuju puncaknya. Ada juga yang merangkak dari puncak menuju akar pohon. Setiap kali mereka berpapasan dengan sesama semut, mereka pun saling bersalaman satu sama lain, seolah mereka adalah saudara sekerabat," kata Adri panjang lebar. "Iya. Kata pak guru juga, kita tidak boleh mengganggu makhluk lain, meskipun itu hanya seekor semut yang kecil," kata Ferdi menirukan penjelasan pak guru di kelas. "Aku juga masih ingat saat pak guru bercerita tentang Nabi Sulaiman dan pasukannya yang hendak melewati segerombol semut. Nabi Sulaiman memerintahkan agar semut-semut masuk ke lubang tanah, supaya tidak terinjak oleh sepatu pasukan Nabi Sulaiman," tambah Deni yang sejak tadi hanya diam memperhatikan barisan semut-semut merah itu.
"Oh, ya. Ayahku pernah cerita tentang semut-semut merah. Apa kalian mau dengar, jika kuceritakan lagi?" tanya Adri kemudian sambil mengingat-ingat cerita ayahnya. "Iya…iya!" jawab Ferdi dan Deni serempak.
"Begini ceritanya…pada zaman dahulu ada segerombol semut merah yang hidup di bawah lubang pohon yang sempit. Pohon itu bercabang banyak dan berdaun lebat. Suatu hari semut-semut itu hendak mencari makanan untuk kebutuhan hidup mereka. Lalu mereka pun saling merayap dan bekerja sama mengangkut potongan kecil buah-buahan yang ada di atas pohon. Sedikit demi sedikit potongan buah-buahan itu mereka bawa menuju lubang pohon tempat mereka berteduh, sampai akhirnya menumpuk hingga hampir menutup lubang. Setelah rumah mereka penuh dengan persediaan makanan, mereka pun beristirahat. Mereka berpikir bahwa persediaan makanan itu akan dapat mencukupi kehidupan mereka selama musim kemarau, saat tak ada lagi pohon yang berbuah. Dengan demikian mereka dapat merasa nyaman dan tidak khawatir akan kehabisan makanan.
Akan tetapi suatu hari terjadi sebuah bencana. Di hutan, tempat tumbuh pohon yang menjadi rumah semut-semut merah itu, tersebar berita bahwa seekor singa telah mengamuk, dan memangsa hampir semua penghuni hutan. Bahkan juga menumbangkan pohon-pohon besar. Singa itu menjadi sombong dengan kekuatannya dan merasa dirinya sebagai raja hutan yang tak tertandingi. Seketika hutan itupun menjadi tempat yang sangat mengerikan bagi hewan-hewan kecil yang lain, tak terkecuali dengan semut-semut merah. Mereka selalu berdoa agar Singa itu tak membunuh mereka, dan merusak rumah, serta menghancurkan persediaan makanan mereka.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Singa pun datang ke tempat semut-semut merah. Ia meraung-raung di bawah pohon seraya menunjukkan taring-taringnya yang tajam. Setelah melihat ada segerombol semut merah di lubang pohon, Singa itu pun berkata dengan seram, "Hei, semut! Apa yang kaulakukan di dalam lubang yang sempit itu?" Semut-semut menjadi takut dan khawatir, bila singa akan menginjak-injak mereka dan merobohkan rumahnya. "Kami berteduh dari sengatan panas matahari dan menyimpan banyak makanan di lubang ini. Bila musim kemarau tiba, kami tidak khawatir lagi akan kehabisan makanan," jawab Semut tak berani berbohong. Mendengar perkataan semut-semut itu, Singa pun menjadi penasaran. "Makanan apa gerangan yang disimpan Semut-semut itu dalam rumahnya yang sempit?" tanya hati Singa. Kemudian ia bertanya lagi kepada Semut-semut dengan penuh selidik, "Bolehkah kutahu makanan apa yang kausimpan di dalam rumahmu? Aku lapar sekali." Semut-semut semakin ketakutan mendengar pertanyaan Singa. Dicarilah akal agar Singa itu tak menghancurkan rumahnya. Lalu semut-semut itu pun berkata, "Boleh, tapi ada syaratnya?" Singa semakin tak sabar. "Ayo, cepat katakan apa syaratnya?" Semut-semut kemudian berbaris di luar lubang pohon dan berkata, "Izinkan kami naik di wajahmu, agar saat matamu mengintip ke lubang ini, kami bisa menunjukkan di mana kami menyimpan makanan kami." Tanpa berpikir panjang Singa pun menyetujui. Semut-semut itu lalu naik ke tubuh Singa serta berkerumun di sekitar wajah dan kepalanya. Setelah itu Singa mulai mengintip ke lubang pohon. Ketika ia membelalakkan matanya ke lubang, semut-semut telah berpencar ke seluruh tubuh singa. Sebagian mereka ada yang menggigit tubuhnya, dan ada pula yang masuk ke telinganya. Singa pun menjadi panik. Ia tak dapat melihat lubang pohon dengan jelas. Bahkan tubuhnya terasa sakit semua akibat gigitan semut. Singa pun mengamuk membabi buta. Ia berlompatan ke sana ke mari hingga akhirnya kecapekan dan roboh ke tanah. Melihat hal itu, hewan-hewan di hutan yang semula bersembunyi saling berdatangan. Mereka mengerumi tubuh singa yang telah menjadi bangkai. Mereka pun berterimakasih kepada semut-semut merah atas segala jasanya."
"Wah, ternyata kita nggak boleh meremehkan makhluk yang kecil ya!" kata Ferdi setelah Adri bercerita. "Ya, mereka hanya kecil tubuhnya, tetapi sebenarnya mereka banyak memberi kita pelajaran. Allah telah menciptakan semua itu, agar kita dapat mengambil hikmah darinya," jawab Adri.
"Oh ya, tadi kita kan mau mengulang pelajaran matematika? Aku belum paham dengan penjelasan pak guru di kelas tadi!" kata Deni mengingatkan tujuan semula mereka berkumpul di bawah pohon beringin itu. "Berulang kali aku telah mengerjakan soal matematika ini, tetapi belum juga aku bisa mengerjakannya. Uh, rasanya sudah jemu aku belajar matematika. Lebih baik untuk sementara kita lupakan saja matematika. Bermain kan lebih asyik. Apalagi mendengarkan cerita tentang semut-semut itu, " jawab Ferdi sambil menunjuk semut-semut merah. "Hei, bukan begitu Fer. Kalau kamu belum paham sebuah soal matematika, cobalah kita pecahkan bersama. Siapa tahu di antara kita bisa menjelaskan. Iya kan Den?" kata Adri. "Benar, kata Adri! Kita coba dulu kerjakan soal-soal ini. Kalau di antara kita tidak ada yang paham, besok kita tanyakan lagi ke pak guru. Gimana? Usul Deni membenarkan Adri. "Ah, bosan ah! Aku sudah putus asa!" kata Ferdi tetap pada pendiriannya.
"Hei, Fer! Coba perhatikan lagi semut-semut merah itu! Walau pun mereka kecil dan membutuhkan waktu yang lama untuk merayap sampai puncak pohon, tetapi mereka tidak pernah berputus asa. Mereka tetap melangkah sedikit demi sedikit hingga mencapai tujuannya. Lihatlah! Mereka tetap saja gembira dan bersalaman saat bertemu, walaupun perjalanan mereka amat melelahkan. Apakah kita tidak bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Semut-semut yang kecil saja tidak pernah patah semangat, lalu kenapa kita yang diberi akal sempurna justru menjadi putus asa?" kata Adri kemudian.
Mendengar penjelasan kawannya itu, Ferdi pun tertunduk malu. "Iya. Benar juga kata-katamu, Dri. Aku jadi malu dengan semut-semut merah itu. Oke deh! Sekarang kita belajar matematika sampai kita bisa mengerjakannya. Aku nggak akan merasa bosan dan putus asa lagi," kata Ferdi penuh semangat. Ketiganya lalu mulai belajar di bawah pohon beringin yang rindang itu. Sesekali canda dan tawa terdengar di antara kepenatan mereka memahami soal-soal matematika. Mereka tidak pernah putus asa, hingga akhirnya semua soal dapat dikerjakannya dengan baik dan benar. Tak lupa mereka pun bersyukur kepada Allah, karena telah memberikan pelajaran yang amat berharga dari makhluk hidup yang kecil seperti semut-semut merah.

diposting oleh anggota gas cirebon

Minggu, Desember 28, 2008

mimpi si pemalas


mimpi si pemalas, adalah cerpen kedua dalam buku nyanyian pipit. selanjutnya, akan saya posting beberapa cerita pendek lain yang pernah diterbitkan. semoga bermanfaat







MIMPI SI PEMALAS
"Vira, ayo bangun Nak! Hari sudah siang. Ayo segera shalat Subuh! Tuh, ayam jantan udah berkokok. Masak kalah ama ayam!" Teriak Ibu membangunkan Vira. Yang dibangunin masih enak-enakan tidur sambil sesekali menarik selimut menutupi tubuhnya yang kedinginan. "Vira, ayo bangun Nak! Kalo nggak bangun, nanti telingamu dikencingi Setan lho!" suara Ibu semakin keras terdengar. Vira masih ogah-ogahan. Bahkan menutupi wajahnya dengan selimut. "Vira, bangun Nak!" Teriak Ibu jengkel. Ditariknya selimut Vira. "Ehmmmm, masih dingin, Bu! Vira malas!" jawab Vira seenaknya. "Ayo bangun! Apa mau Ibu siram pakai air!" Ancam Ibu sambil menarik tangan Vira. Kali ini Vira tak dapat mengelak. Dia paling takut bila disiram air, apalagi udara pagi sangat dingin mencekam. Mau tak mau akhirnya dia bangun juga. Disibaknya selimut dengan rasa malas. Lalu pergi ke kamar mandi, menggosok gigi, berwudhu, dan shalat subuh.
Selesai shalat Subuh, Vira kembali lagi ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di bawah selimut. "Alangkah enaknya bila tidur lagi!" bisik hatinya menggoda. "Uuuuuuh, rasanya masih mengantuk. Biar aja Ibu marah-marah. Toh aku gak akan mendengar teriakannya, bila sudah tertidur!" bisik hatinya lagi. "Tapi, hei…bukankah aku mesti sekolah hari ini? Nanti kalau ayah udah pulang dari luar kota, pasti akan marah-marah bila tahu aku membolos gara-gara ketiduran!" berontak hatinya yang lain. "Ah, itu urusan nanti. Yang penting sekarang enakan tidur! Sekali-kali membolos gak masalah!" goda hatinya lagi. Akhirnya dia pun tertidur pulas. Beberapa kali suara Ibunya yang berusaha membangunkannya masih terdengar, namun lambat laun samar-samar dan bahkan tak terdengar sama sekali di telinga Vira.
Melihat kelakuan Vira, Ibunya tak mampu berbuat apa-apa lagi. Berulang-kali dia telah berusaha membangunkan dan menasehati putrinya itu, namun tak dihiraukan sama sekali. Dia pun sudah bosan melihat kemalasan Vira. Akhirnya dibiarkannya Vira tertidur.
Vira semakin pulas tertidur. Di bawah selimut tebalnya, dia merasa sangat nyaman dan hangat. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang tertawa mengejeknya. "Hi…hi…hi…hi…!Vira, bangun! Hi…hi…hi…hi! Apa kamu tidak malu pada kami. Lihatlah kami saja sudah bangun dan mencari rezeki. Orang yang bangun siang itu susah rezekinya." Vira pun membuka mata dan mencari sumber suara. Ternyata semut-semut kecil telah berbaris rapi di meja belajarnya sambil berbondong-bondong mengangkut potongan-potongan roti jatah sarapannya pagi itu. Ibunya sengaja meletakkan roti itu di atas meja belajarnya. Sesaat Vira terhenyak melihat semut-semut itu. Ingin rasanya dia marah dan membunuh semut-semut yang telah menghabiskan rotinya. Namun selimut tebalnya seakan-akan mengikat erat kaki dan tangannya hingga dia tak mampu bergerak. Akhirnya dia pun terkulai dan tertidur lagi.
Beberapa saat kemudian Vira dikejutkan lagi oleh sebuah suara. "Vira, bangun! Vira Bangun! Apa yang kamu dapat dari tidurmu. Apa kamu sudah bosan ke sekolah dan belajar menuntut ilmu. Apa dengan tidurmu itu, kamu bisa mendapatkan rumah mewah seperti yang kami punya. Lihatlah, sepagi ini saja kami sudah bangun dan membuat rumah yang indah untuk anak-anak kami!" kata suara itu terngiang-ngiang di telinga Vira. Vira pun membuka matanya dan mencari sumber suara. Ternyata suara itu milik burung-burung yang sedang bertengger di atas pohon di samping jendela kamarnya. Dilihatnya burung-burung itu sedang tertawa-tawa mengejeknya sambil sesekali menunjukkan rumah barunya yang indah. Diamatinya sekali lagi rumah burung-burung itu. Ternyata burung-burung itu telah membangun rumah dari seragam sekolahnya. "Hei, Burung sialan! Kembalikan seragamku!" Teriak Vira geram. "Bukankah kamu sudah malas pergi ke sekolah dan tak memerlukan lagi seragammu?" jawab burung sambil tersenyum sinis. "Kembalikan seragamku. Kalau tidak kubunuh kalian!" teriak Vira sambil beranjak bangun dari tempat tidur. Namun lagi-lagi selimut tebalnya terasa mengikat dan menjerat kakinya erat-erat. Vira kembali terkulai lemas dan akhirnya tertidur lagi.
Sesaat kemudian, Vira dikejutkan lagi oleh sebuah suara. "Vira, bangun! Vira, bangun! Ayo kita bermain-main dan bersenang-senang. Bukankah kamu suka bermain bersama kami?" teriak suara itu. Vira pun membuka mata. Dilihatnya banyak tikus di bawah kolong tempat tidurnya. Tikus-tikus itu saling berkejaran sambil menggigit-gigit sepatu sekolah Vira dan mencabik-cabik buku-buku pelajarannya. "Ha..ha..ha..ha..ha!" Tikus-tikus itu tertawa sambil sesekali menarik-narik selimut di ujung kaki Vira. Vira menjerit-jerit ketakutan, namun tak seorang pun mendengar jeritannya. "Tolong! Toloooooooooong! Pergi kamu Tikus sialan. Kembalikan buku-buku dan sepatuku!" Teriak Vira sekuatnya. Tikus-tikus itu tidak jua pergi, bahkan mengerubuti Vira, seakan-akan ingin mengajaknya bermain. Vira semakin ketakutan. Dia berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa berat. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya semakin melilit kencang. Dia pun kembali terkulai lemas dan pingsan tak berdaya.
Vira masih tak sadarkan diri. Tiba-tiba terjadi hentakan keras seolah-olah gempa bumi. Kamar tidur pun terasa bergoyang-goyang. Vira terbangun kaget. Dia berusaha membuka mata lebar-lebar, namun kedua matanya terasa berat dan lengket. Dirasakannya ranjang tidur pun turut bergerak-gerak, bahkan bergeser dari tempatnya semula. "Apa yang telah terjadi? Kenapa ranjang ini bergerak sendiri?" tanyanya dalam hati. Vira menjadi takut. Ingin rasanya dia bangkit dan turun dari ranjang serta berlari sekuat tenaga. Namun dia pun tak berdaya, seakan-akan memang tubuhnya telah melekat kuat di atas kasur ranjangnya.
Vira terus berusaha bangkit, namun semua hanya sia-sia. Ranjang tidurnya terus bergeser, bahkan berjalan sendiri hingga keluar kamar dan melewati ruang tamu. Dilihatnya Ibunya sedang duduk di ruang tamu sambil menyulam baju. "Ibu, tolooong!" Teriak Vira sekuat tenaga. Namun Ibunya tak mendengar teriakan Vira. Dia masih saja asyik dengan sulamannya. "Ibu, tolooong Vira! Maafkan Vira, Bu!" Teriak Vira berkali-kali, hingga suaranya habis. Tenggorokannya terasa kering, namun Ibunya tetap saja tak bergerak untuk menolongnya. Ranjang tidur terus bergerak dan membawa Vira keluar rumah, hingga melewati jalan raya. Orang-orang pun memandang Vira keheranan. Sebagian mereka terbengong-bengong, dan sebagian yang lain tertawa-tawa mengejek. Vira sangat malu dengan mereka. Dia berusaha bangkit, namun tetap saja tidak berdaya. Ranjang tidur terus berjalan dan membawanya berkeliling kota. Kemudian saat melewati sekolah Vira, Ranjang tidur itu berhenti sejenak. Melihat kejadian aneh itu, para guru dan teman-teman sekolah Vira keluar dari kelas. Mereka melihat Vira yang sedang tergolek di ranjang tidur dengan selimut tebal dan baju serta rambut yang acak-acakan. "Ha…ha…ha…ha…ada ranjang tidur berjalan!" teriak teman-teman Vira sambil tertawa mengejek. "Lihatlah, anak-anak! Inilah contoh anak yang pemalas dan tidak mau bangun pagi! Ranjang tidurnya yang akan mengantarkannya ke sekolah! Karena itu jangan malas bangun pagi!" kata salah seorang guru. Mendengar kata-kata guru tersebut, Vira menangis karena malu. Dia ingin bangkit dari ranjang tidurnya dan mengakui kesalahannya. Namun lagi-lagi dia tak berdaya. Ranjang tidurnya kembali berjalan dan bahkan membawanya sampai ke sebuah hutan yang penuh dengan semak belukar. Ranjang terus berjalan tanpa perduli dan menabrak pohon-pohon lebat yang ada di depannya, bahkan semakin kencang dan kencang. Vira berteriak-teriak ketakutan. "Duuuuug…broooog, dum..dum!" Akhirnya Vira jatuh terlempar.
Kali ini Vira benar-benar terbangun dari tidurnya. Dia telah jatuh dari ranjang tidurnya. "Aduuuuuuuuuuh….!" Ucapnya kesakitan. Ibunya yang mendengar suara benda terjatuh segera menghampirinya. "Hu…hu…hu!" Tangis Vira dalam pelukan Ibunya. "Sudah…sudah! Ayo lekas bangun, mandi dan berbenah! Sekarang sudah jam 6.30. Nanti terlambat ke sekolah!" Kata Ibu menenangkan. "Tadi Vira mimpi yang sangat mengerikan. Hu…hu…hu…!" Tangis Vira semakin keras. "Makanya jangan suka tidur lagi sehabis shalat Subuh. Tidak baik bagi kesehatan!" Kata Ibu kembali menasehati. "Maafkan Vira, Bu! Selama ini Vira sudah tak menghiraukan nasehat Ibu untuk bangun lebih awal. Pokoknya mulai besok Vira nggak akan bangun siang lagi. Sehabis Subuh, Vira akan belajar lagi dan membantu Ibu!" Kata Vira berjanji. "Syukurlah, kalau begitu! Ibu senang mendengar semangatmu! Semoga kamu bisa melaksanakannya." Kata Ibu sambil tersenyum.
Hari-hari berikutnya Vira benar-benar telah mengubah kebiasaannya. Dia tak lagi malas dan ogah-ogahan bangun pagi. Melihat perubahan itu, ayah dan ibunya pun semakin sayang padanya.

diposting oleh anggota gas cirebon

Selasa, Desember 23, 2008

nyanyian pipit



pengantar:
berikut adalah cerita pendek yang ditulis oleh istri saya, nur saadah. cerpen ini ditulis saat aku dan istriku sedang menunggu kelahiran anak pertama, itu 4 tahun yang lalu. cerpen ini pernah diterbitkan oleh kalami indonesia. kabarnya pernah dicetak ulang. semoga bermanfaat.

NYANYIAN PIPIT
Cit…cit…cit, segerombol burung pipit bertengger di atas pohon. Lalu berlompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Kicauan burung-burung itu menambah pagi yang cerah menjadi semakin sejuk. Seperti biasa, Aqila selalu terbangun saat mendengar nyanyian burung-burung itu, seolah memang Allah telah menciptakannya untuk membangunkan Aqila dari tidur lelapnya.
"Segala puji bagi-Mu, Ya Allah! Engkau telah membangunkanku kembali setelah menidurkanku. Engkaulah tempat kembali segala sesuatu," ucap Aqila lirih seraya terduduk di sisi tempat tidur. Dia pun segera membereskan tempat tidur, menata bantal dan guling serta melipat selimutnya. Kemudian beranjak ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan berwudhu. Setelah itu, Aqila menuju mushalla dan salat Subuh berjamaah dengan ayah dan bundanya.
Usai salat Subuh, seperti biasa Aqila selalu belajar mengaji kepada ayahnya. Sehabis mengaji barulah dia membantu bundanya menyiapkan sarapan pagi. Selesai sarapan, dia pun mandi dan berkemas-kemas untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa dia pun berpamitan dan mengucap salam kepada ayah dan bundanya saat hendak berangkat ke sekolah. "Pagi yang sangat indah!" bisik hatinya.
Sambil berlari-lari kecil, Aqila menuju ke sekolah. Dilihatnya burung-burung pipit masih bertengger di atas pohon sambil sesekali berlompatan kesana-kemari. Burung-burung itu seolah mengikuti langkah kecil Aqila menuju sekolah. Sesampai di sekolah sudah banyak teman-teman Aqila yang berdatangan. Mereka saling bercanda dan tertawa dengan riang. Salah seorang di antara mereka adalah teman akrab Aqila. Namanya Atika. "Hai, Qila! Baru datang ya. Kemarilah, aku punya sesuatu untukmu," teriak Atika sambil menunjukkan sebuah bungkusan. Iya Qila, kemarilah!" teriak teman-teman yang lain. "Apa itu?" Tanya Aqila terpana sambil menghampiri Atika. "Suatu kejutan untukmu!" jawab Atika masih merahasikan. "Apa ini? Boleh kubuka?" kata Aqila tak sabar. "Bukalah, tapi jangan terkejut!" Jawaban Atika semakin membuat Aqila penasaran. Dibukanya bungkusan itu dengan hati-hati. Debar di dada kian tak menentu. Apa gerangan yang diberikan Atika untuknya. "Hai, apa ini Tika?" Aqila semakin terpesona. Dilihatnya isi bungkusan itu dengan mata berbinar. Sekotak pensil warna yang sangat bagus. "Itu hadiah dari teman-teman untukmu! Selamat ya, kata pak guru, kamu terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba lukis nasional," jawab Atika gembira. "Benarkah?" Tanya Aqila tak percaya. "Benar, kan teman-teman?" Tanya Atika pada teman-teman yang lain. "Iya, Hidup Aqila…Hidup Aqila!" Teriak teman-teman membuat Aqila percaya. "Kalau memang benar, terimakasih atas dukungan kalian semua. Doakan Aqila ya!" Kata Aqila kemudian. "Horeeeeeeeeee, Hidup Aqila! Kami sangat mendukungmu!" jawab Atika disertai teriakan teman-teman. Seiring dengan teriakan-teriakan gembira mereka, bel sekolah pun berbunyi. Mereka pun segera memasuki kelas dengan tertib.
Hari itu Aqila sangat gembira. Dia pun mengikuti pelajaran dengan semangat. Semua pelajaran yang disampaikan oleh para guru telah meresap dan masuk di otaknya. Pelajaran-pelajaran itu seolah telah begitu melekat bagaikan ukiran di atas batu yang takkan terhapus oleh waktu.
Pulang sekolah, dia pun segera menuju rumah dengan gembira sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dilihatnya burung-burung pipit masih berlompat-lompatan dari satu pohon ke pohon lain yang berada di sepanjang jalan. Burung-burung itu seolah turut gembira. "Ayolah kita bernyanyi pipit! Hari ini aku sedang gembira. Pak Guru dan teman-teman telah mendukungku untuk mengikuti lomba lukis nasional. Betapa besarnya karunia Allah padaku! Tentu ayah dan bunda akan senang dan gembira mendengar kabar ini," teriak hati Aqila riang.
Sesampai di rumah, Aqila sudah tak sabar menyampaikan berita gembira itu kepada bundanya. "Assalamualaikum. Bunda…Bunda…Bunda…! Aqila udah pulang," teriakan Aqila membuat bundanya terkejut. "Waalaikumumussalam! Gimana di sekolah hari ini, Qila!" Tanya bunda. "Wah, yang pasti oke dong Bunda. Hari ini Qila dapat nilai sepuluh untuk pelajaran matematika. Trus…ada lagi kejutan buat Bunda. Tadi Pak Guru mengumumkan kalau Qila terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti lomba lukis nasional. Teman-teman memberi hadiah sekotak pensil warna untuk Qila," kata Qila berapi-api penuh semangat.
"Syukur alhamdulillah…Sayang! Anak bunda memang oke. Bunda sangat bahagia mendengarnya. Pasti ayahmu nanti juga akan gembira mendengarnya. Sekarang ganti baju, dan segera makan ya!" kata bunda kemudian.
Aqila segera pergi ke kamar, menyimpan tas sekolahnya, dan ganti baju. Setelah itu, dia pun menuju meja makan dan menyantap masakan bunda dengan lahapnya.
Sore hari, saat ayahnya pulang kerja, Aqila telah menunggu di halaman rumah. "Assalamualaikum, Sayang!" sapa ayah ketika dilihatnya Aqila sedang menghampirinya. "Waalaikumussalam!" jawab Aqila tersenyum. "Ada apa nih, sepertinya anak ayah sedang menyimpan sesuatu," tanya Ayah sambil merangkul Aqila penuh sayang. "Emmm, ada kejutan untuk Ayah. Qila telah terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti lomba lukis nasional," kata Aqila penuh semangat. "He…he, benarkah? Anak ayah memang hebat. Kapan itu Sayang?" kata Ayah bahagia. "Emm, dua minggu lagi, Yah! Nanti Ayah dan Bunda bisa mengantar Qila kan?" rajuk Qila manja. "Tentu dong, Sayang!" jawab Ayah membesarkan hati Qila.
Qila tak mampu lagi membendung kebahagiaannya. Hari itu terasa cepat dilaluinya. Matahari hampir saja terbenam. Senja pun begitu indah baginya. Dilihatnya pepohonan dari balik jendela kamar, dan burung-burung pipit pun tak kelihatan lagi, meskipun kicauannya masih samar terdengar. Rasanya lengkap sudah karunia yang telah Allah berikan padanya hari itu. Dia pun mengucap syukur alhamdulillah atas semuanya.
Dua minggu kemudian, saat perlombaan lukis tiba. Aqila telah bersiap-siap hendak berangkat. Peralatan melukis pun telah dipersiapkannya. Tekadnya untuk membuat lukisan yang indah dan mengharumkan nama sekolahnya telah bulat. Pagi itu dia pergi ke tempat perlombaan dengan di antar ayah, bunda dan pak guru serta doa dari teman-temannya.
Selama ini hanya satu yang membuat Aqila terkesan, ialah burung-burung pipit yang bertengger di atas pohon dan nyanyian-nyanyian burung itu yang selalu membangunkan tidurnya di pagi hari. Karena itu, dalam perlombaan nanti, dia ingin melukis burung-burung pipit yang bertengger di atas pohon dengan begitu indah.
Tetapi malang tak dapat ditolak. Manusia berencana namun Allah jualah yang menentukan. Pagi itu, saat hendak berangkat ke tempat perlombaan, mobil yang dikendarai Aqila mendapat musibah. Sebuah bus dengan kecepatan tinggi telah menabraknya dari arah yang berlawanan. Aqila pingsan tak sadarkan diri. Adapun ayah dan bundanya serta pak guru mengalami luka ringan. Begitu pula dengan beberapa penumpang bus. Mereka pun segera dilarikan ke rumah sakit. Syukurlah kecelakaan itu tidak menelan korban jiwa.
Setelah sadar dari pingsannya, Aqila menangis. Dia baru teringat, bahwa dia telah gagal mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba lukis. Dia pun telah gagal mewujudkan impiannya untuk mempersembahkan lukisan tentang burung-burung pipit yang disukainya itu. Aqila terus menangis, meskipun ayah, bunda dan pak guru telah menghiburnya. Begitu pula teman-teman yang menjenguknya. "Sudahlah Qila Sayang! Jangan menangis. Kita harus bersyukur, karena Allah masih menyelamatkan kita dari musibah kecelakaan itu. Lihatlah Pak Guru dan teman-teman juga masih menyayangimu. Besok kalau ada kesempatan lomba lagi, Qila pasti bisa ikut. Sudah ya, Sayang! Jangan menangis lagi!" Kata Bunda memberinya nasehat."Iya, Qila. Kami akan selalu menyayangi dan mendukungmu!" Kata Pak Guru sambil tersenyum. Mendengar semua itu, hati Qila agak tenang.
Hari demi hari berlalu, Aqila telah kembali masuk sekolah. Namun jika teringat dengan perlombaan lukis yang gagal diikutinya itu, dia pun menjadi murung dan lebih suka mengasingkan diri. Perasaan bersalah masih menghantuinya. Bila telah berada di rumah, dia hanya duduk termenung sambil memandang keluar melalui jendela kamar. Terkadang dia duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon sambil melukis burung-burung pipit yang saling berlompatan di antara dahan-dahan pohon.
Ketika bunda melihat Aqila masih saja bersedih, Bunda pun menghampirinya. Dilihatnya putri kesayangannya itu sedang melukis burung-burung pipit. "Lagi melukis burung pipit ya Sayang!" Tanya bunda penuh perhatian sambil membelai rambut putrinya. Aqila hanya diam tak menjawab. "Lho, kok diam sih. Kalau Bunda tanya, dijawab dong!" kata bunda lagi. "Iya, Bunda. Qila sedang melukis burung-burung pipit. Dulu Qila ingin ikutkan lukisan ini ke perlombaan, tapi…hu..hu..hu…!" tangis Qila tak terbendung lagi. Bunda memeluk Qila dengan penuh sayang. "Sudah Sayang! Jangan menangis dan bersedih lagi! Besok kalau ada lomba lagi, kita ikutkan lukisan ini ya Sayang. Pasti dapat juara. Sudah…sudah! Anak yang baik dan pintar gak akan menangis dan berputus asa. Lihat burung-burung pipit itu, Sayang! Meskipun mereka kecil dan umurnya pendek, tapi mereka selalu bernyanyi dan berkicau riang. Na…na…lihat itu Sayang! Burung-burung itu masih saja terbang dengan riang. Sedangkan kita manusia, Allah telah memberi kita umur yang panjang, tetapi kenapa kita selalu bersedih dan putus asa. Masak kita kalah dengan burung-burung pipit?" kata bunda dengan penuh kesabaran.
Aqila mulai mengerti apa yang dikatakan bundanya. "Iya…ya, Bunda!" kata Qila kemudian seraya menghapus air matanya. "Burung-burung saja pandai bersyukur, kenapa kita tidak ya, Bunda! Maafkan Qila ya, Bunda! Mulai besok Qila tidak akan bersedih dan putus asa lagi," lanjut Qila menyadari kesalahannya. "Nah, gitu dong, anak Bunda! Kita harus mensyukuri karunia yang telah Allah berikan apapun itu," jawab bunda sambil tersenyum.
Sejak peristiwa itu, Aqila tidak pernah lagi bersedih dan berputus asa. Nyanyian burung-burung pipit itu membuatnya sadar bahwa Allah telah memberinya banyak karunia dan anugerah. Beberapa bulan kemudian, saat diadakan perlombaan lukis lagi, Aqila mengikutinya dan melukis burung-burung pipit kesukaannya. Dia pun dapat meraih juara dan mengharumkan nama baik sekolahnya. Itu semua membuat Aqila semakin bersyukur dan mencintai lingkungan hidup.

diposting oleh anggota gas cirebon

Minggu, Desember 14, 2008

WHeRE arE YOU GAS foNDATIOn


SAYANG KAMU DIMANAAA? SAMA SIAAPAAA? NGAPAAIIIIN? Sebuah kalimat yg begitu mengelitik... sering kita jumpai di pinggir2 jalan, tak jarang kalimat itu muncul di milis G45,
kalimat iklan menggelitik tersebut sama menggelitiknya dengan apa yang kita rasakan tentang keberadaan G45 Fondation yg beberapa waktu lalu kita dengungkan pasca Reuni Aku lego pethuk kowe (bukan Kowe 'pethok' sprti kata rekan alik)

begitu rindunya kita akan sesuatu yg berguna
begitu rindunya kita akan sesuatu yg bermanfaat
haruskah GF mati prematur? hilang begitu saja, bagaikan semilir angin di puncak 'Gununge Wilis'?

mungkin Allah belum kasih IDE buat kita tentang apa yg seharusnya DIA ijinkan untuk kita perbuat, mungkin kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita,
keluarga kita, pekerjaan kita, karir kita atau munkin telah begitu banyak hal baik yg telah kita kerjakan, telah begitu banyak amal yg kita perbuat, kita telah menghidupi anak yatim, memberi bea siswa anak terlantar, ALHAMDULILLAH YA ROBBI

mungkin itu hanya sebagian dari kita,
namun ada sebagian yg masih dalam taraf 'BELAJAR MENJADI BAIK' dimata ALLAH
(termasuk aku tentunya)

bolehlah 'aku' disebut provokator
(memang provokator >> mungkin sani berkomen setelah membaca ini)
mungkin ... sebenarnya aku salah satu orang yg penakut....
takut untuk berbuat lebih baik....
sehingga berusaha 'memprovokasi' teman2
coro menungsone golek konco'

Mbah kaji Darmo, Syeh Mbah Yo (pinjam kata2 wartawan)...
alik, kohsur yang kaya ide..
ET yang selalu simpel dan iklas...
kopok yg selalu Soro (istilah ET jenenge kon ganti HAPORASORO WILIS
dan tentunya saudaraku yang teramat kaya ide Adib 'ANTV' Ahsani..

Kapan..? Kapan...? Kapan....?
kita wujudkan kreasi GF?
aku teramat yakin... bila teman2 yg diluar Milis G45 juga akan antusias
dengan G45 FONDATION.

sekedar mengingatkan bagi aku pribadi....
zakat pendapatan kita/aku setiap tahun ...
mungkin......
bisa dikelola GF.....

Saudaraku......
tolong bila aku salah dalam menulis ini...
tolong koreksi....
tdk ada tendensi, maksut dan tujuan tertentu dari semua ini...
hanya "PERASAAN BANGGA AKU PUNYA SAUDARA2 SEPERTI KALIAN"
hanya itu tak lebih.....

G45 Kediri